Saturday, February 16, 2013


Si upik menjadi punggawa,
Lupa diri, dalam pringgodani
Melantunkan banyak lagu sumbang
Namun merasa merdu syahdu
Tak lagi berbaju, karena tak punya malu
Menengadah hingga lupa menunduk
Ah,sungguh mengenaskan.

Sedangkan Semar tak lagi bijak
Namun mencari hikmat dirinya sendiri
Hari demi hari ditapaki,
Menyusuri aliran sungai Bengawan Solo
Mendaki dan menuruni Puncak Merapi
Hanya untuk memporak poranda bumi
Entah apa yang dicari,
Jika tindak tanduk bak kambing bandot

Lain lagi, beda lagi
Bima tak lagi perkasa
Harus merana dalam ukiran kayu jepara
Atau dalam halusnya sutra berbusa
Yang tersisa hanya suara, tanpa wujud perwira

Sedangkan Shinta tak lagi bersama Rama
Bertolak juga berbalik arah
Walau besar dalam lingkungan istana
Namun memilih hidup dalam eluan jelata
Emas dan pemata
Menjadikannya berbeda
Terpandang bak ratu kameswara
Namum pribadi menjad usang seperti dorna

Hanya tersisa satu menara
Yang terus terhimpit bukit dalam rimba belantara
Tersengal namun tidak mati
Tertatih namun tidak tercampak
Walau kadang menjerit pilu,
Atau berteriak histeris, menangis
Tersisa tetap dalam dunia fana
Dikalangan seantero tokoh idola
Yang menunggu titik darah yang penghabisan

Ini hanya sekelumit kisah
Dari yang tiada menjadi ada
Dari yang bukan siapa siapa menjadi siapa
Dari yang bijak menjadi pencuri kebajikan
Jika kamu bisa mengerti,
Atau pun memahami,
Oh, sungguh bobroknya kehidupan ini.


By smile
You are nothing,but you feel to be something,

0 comments:

Post a Comment