Showing posts with label puisi renungan. Show all posts
Showing posts with label puisi renungan. Show all posts

Monday, January 23, 2012


Aku tercengang,
Melihatnya berkata,”aku ateis”
Kukrenyitkan dahiku, ketika dia berkata, Aku tak ber(T)uhan
Aku tak beragama, dan itu keyakinanku, demikian pengakuannya…

Lama aku merenung,
Berpikir tentang dahsyatnya sebuah kata
Yang teruntai dalam untaian kalimat

Begitu sederhana,tapi mengguncang dunia
Begitu singkat, tapi memerahkan semua telinga.

Aku kembali merenung
Namun kini sambil berandai

Jika aku yang ateis?
Apakah aku jadi berdosa?

Lebih berdosa manakah,
Yang ber(T)uhan tapi melakukan kejahatan?
Yang beragama,tapi melakukan :
Pemerkosaan?
Pembunuhan?
Merampas hak orang?
Pencurian, korupsi penuh kenistaan?
Mencaci maki, iri dengki….

atau yang tak ber(T)uhan, tapi hidup seperti orang beradab....?
Yang tak beragama namun tahu itu namanya dosa?
Apakah karena aku tak ber(T)uhan, dan juga tak beragama
Maka aku tak diterima diufuk jauh disana…
Atau jika aku ber(T)uhan, dan taat beragama
Lalu apakah aku pasti masuk surga,…
Jika hidupku penuh kejahatan berbalutkan kedengkian?

Mungkin aku mencibir,
Mungkin orang gundah gulana
Melihat yang salah berkata-kata

Tapi, siapakah aku,
Dan siapakah kamu?
Jika mengukurkan kesalahan pada sesama
Karena pantaskah aku menjadi hakim,
Dan kamu menjadi terdakwa?

Hinakah dia melebihi, aku?
Atau…
Hinakah aku melebihinya?

Malukah aku, ketika kamu tahu
Aku ber(T)uhan dan kamu tidak?
Tapi tingkah lakuku lebih setan daripada iblis?
Malukah aku, ketika kamu tahu
Aku beragama namun bejat dan bersembunyi dalam topeng keagamaanku?

Apakah aku ateis,
Melebihi kamu?
Renungkanlah ini.

Jika memang aku tak lagi punya malu,
Biarlah (T)uhan menciptakan hanya satu saja lubangku.
Lubang untuk mengisi perutku
Dan lubang untuk membuang kotoranku.

Apakah kamu ateis,
Namun aku yang ber(T)uhan dan beragama
Lebih hina daripada kamu?

Apakah aku ateis?
Renungkanlah ini.
Karena setiap orang yang bisa menjawabnya 
Dari pribadi lepas pribadi
Dari hati ke hati










23 Januari 2012

Monday, October 31, 2011

Kami berteriak,memandu penuh peluh
Dari kami melambung tinggi,
Dengan setitik asa dalam umbaran cemas

Dia berlari, kami tertatih
Dia berlantang, kami merunduk
Dan ketika pendaman sejulang emas teraih
Sirna,dalam biasan waktu,pergi

Kurun waktu bergulir bak pasir berbisik
Dalam sepi,dalam sunyi
Cemas,tidak lagi
Pasrah,itu pasti

Meradang ungkapan kata berbait puisi
Lari, lari dan lalu pergi
Awal tak seperti mula
Akhir tak berujung dalam pasti,



Kembali kami dan kami, tersisa ini
Menungu tanpa pasti,waktu dalam hari
Dan hari merindu tahun dalam hati

Oh, semesta pertiwi bumi
Menangis kami, lagi dan lagi
Karena untaian kasih kami tak pernah terbayar
Selalu sirna dalam mekar langsung mati

Berbusana rapi berkilau permata
Tak dengan kami gembel nista mengharap pagi
Kami meradang, terjang tak henti
Biar raga kami tertinggal dalam ceceran pijak kaki
Buat kami, untuk kami, dari kami
Jangan pergi berpaling lari

Letih, kami letih
Seletih kupu kupu terbang kian kemari
Berontak kami bukan mencaci
Teriak kami bukan menghakimi
Ingat kami,kecil tak berarti
Pilu kami, untuk secercah janji
Bak mentari pagi dalam dalam ruang dan sisi

Haruskah kami seret gantung dalam neraca keadilan
Jika jelata, seperti kami hanya bisa menanti
Kami,..menunggu prasasti, ukiran kebenaran dalam keadilan
Kami,tak berhenti
Mencari kesamaan dalam rasa dan juga asa
Bukan dalam lantangan atau kasta
Sudahi, perih pedih ini.
Dari kami, dan untuk kami








1 November 2011
Puisi untuk negeri impian
Dalam bilur kebobrokan moral
Dalam kelamnya birokrasi
Dan kejamnya politik dalam negeri

Thursday, July 7, 2011

Sebuah reply tuk Luhung Mardi

Menulang emas di timbunan pasir
Jauh tertanam di dalam tanah
Seperti mengharap mentari terbit di barat
Atau Air samudera raya ada di cakrawala

Sekandung badan seragam darah
Satu berhunus pedang
Yang lain berpegang tameng putih menyala
Kalau dia bilang pentung,
Berarti satu yang lain akan bersumber pada trikasta

Jika katanya, Dia, Dia, Dia, dan Dia
Lalu siapa si manunggal  : ternyata?
Dalam balutan satu warna saja berdarah,
Apalagi pelangi dalam untaian warna

Jika si pemanggil manunggal berlantang
Akan ujung dan akhir
Lalu siapa gerangan terkumandang
Dua dalam satu kumpulan pinang di belah dua

Tak ada paksa dalam tentuan titik
Apalagi jika sehelai rambut di belah tujuh
Biarkan senyawa menoreh tinta
Dalam setiap bejana hayat manusia
Karena pada akhirnya
Semua tak tahu,
Juga,……tak pernah bersuanya : aku – kamu
Dengan Dia, Dia, Dia, Dia, dan Dia itu

Jika ucap-nya, bermula dari kata,
Itu benar , karena ada pada mulanya
“Ada sebelum Ada” dan diam - ketika gelap tercipta

Sungguh ironi,
Bak kapal terombang - ambing di laut lepas
Tak ada labuh – Tak ada suar
Tak ada akhir, apalagi titik

Hai - seruanku pada mereka dalam hingar
Hai – seruanku diantara desingan dan dentuman
Diantara sayatan dan keamisan
Aku menari atau menyanyi
Aku menangis atau terbahak dalam sedakan

Ketika dia bilang bersalah, lalu siapa yang benar
Ketika dia bilang kotor, lalu siapa yang bersih
Ketika dia bilang nomor satu………
Lalu siapa yang mau jadi nomor dua?
Bahkan nomor tiga, empat, lima?

Biarkan satu dengan satu
Dua dengan dua, yang merasa satu
Karena manunggal sudah tentu
Untuk berkata : “Iya…aku, bukan kamu…”
Mustahil saja semua itu

Bisakah menghukum sang penghukum
Menolak jika itu bukan landas, tapi pijakan kaki

Bisakah berlantang sekali lagi :
“Ini aku, dan bukan kamu, kamu, kamu atau kamu”

Ke surga atau ke neraka, dia berkata
Atau hanya antaranya……….

Siapa tahu dan siapa mau?
Ke kiri jika berharap ke kanan
Ke atas jika berharap ke bawah
Ke depan jika berharap ke belakang?

Insan hanya hembusan nafas
Dari buliran debu tak kasat mata,
Hilang tak berbekas dalam tiupan
Tapi sempurna dalam Mahakarya

Disamakan......
Diratakan……..
Disatukan.....
Dari serakan

Tak bisa dengan mudah dalam ikatan
Pelik dan sungguh rumit
Sulit dan amat sukar
Jika sudah tujuh – delapan -  atau sembilan
Biarkan terurai dalam serakan
Satu lemah seribu gagah

Biarkan dia dengan Dia , Dia, Dia, atau Dia nya
Tak ada yang sanggup melompat seperti katak,
Jika dia babon…….
Tak ada yang dapat seperti babon, jika dia katak

Biarkan lembu tetap meladang
Dan domba tetap merumput
Karena mentari terbenam di barat
Dan air tetap di laut

Pada akhirnya aku tak tahu
Kamu – juga dia, tak tahu
Hanya Dia yang tertinggal dalam akhir
Yang tahu,
Yang tahu,
Yang tahu, dan sungguh,
Kuberitahu, Dia itu tahu.

Yang terakhir, untuk kamu,
Kamu, kamu, dan kamu
Sedalam apa aku mencari
Setinggi apa aku menengadah
Sehikmat apa aku berlaku
Biarkan,sama seperti kamu,
Kamu, kamu, dan kamu

Keterkekanganku, dan keterkekanganmu
Seciut apapun jalan berliku,
Atau seberingas apa walau dalam tawanan
Aku, tetap melaju,
Sama seperti kamu, kamu, kamu dan kamu

Apalagi yang kita mau?
Atau yang kamu, kamu kamu, dan kamu mau?








07 Juli 2011
Dari 4 penjuru mata angin
Dari dua sisi gelap dan terang
Dari timur dsampai kebarat
Sebuah puisi dari hati


Monday, June 27, 2011

Mereka bukan pengemis

Hidup dalam kegelapan
Dikala mentari bersinar terang
Hidup dalam kepekatan
Dikala rembulan tersenyum riang
Hidup dalam kekurangan
Jua dalam  ketidaksempurnaan
Sedih, lalu mati,
Atau bertahan dalam dunia fatamorgana

Mengukir prasasti
Atau
Mengekang semua hasrat,
Dalam teriakan meronta geram


Tidak…..
Tak kuhirau derpaan ombak terjal
Atau sambaran api melahap jiwa

Aku berdiri tegar,
Bukan untuk merintih dalam raungan tangis
Atau mengiba dalam belas kasihan
Tapi menyongsong hari penuh harapan
Sekali berarti, atau mati

Keindahan mereka katakan neraka jahanam
Surga dunia mereka rasakan seperti lembah nestapa
Bagi dia, yang tak berada disini
Bagi mereka yang menganggap semua tak pernah pasti

Ketika kulihat setitik cahya
Laksana kupandang semendung awan bergumpal
Ketika getar, aku berdiri dalam diam
Berguruh lantang aku terbahak

Aku diam tak beriak
Mereka pilu  dan sungguh mengharu
Aku tegar tak bergeming,
Mereka goyah dan berempati hati.

Sungguh,ku bangga dengan gelap itu
Sungguh ku bahagia dengan kehinaan itu
Karena aku berharga dalam dekapanMu
Dan aku bernilai bak permata safir berkilauan
Walau hidupku bukan hidupmu,
Walau rasa ku bukan asamu


Life for nothing, die for something
Life for something, die for blessing

Untukmu
“pahlawan dunia baru”
Generasi penerus bangsa yang tegar
Yang bangga menjadi manusia
Walau tidak sempurna, dan hidup hanya sebagai orang terbuang
Untukmu, saudara saudaraku
Yang hidup dalam kegetiran dunia,
Tapi perkasa dan tak kenal lelah
Selalutersenyum walau dunia membuat tangisan pilu
Semoga Tuhan besertamu, saudara saudara terkasih


 by smile
27 Juni 2011
Aku Mulai Hari ini

Hidup itu tak bisa sendiri
Tentu butuh teman dan kadang disusupi lawan
Hidup itu tak bisa nyaman, kalau tak punya teman, tapi punya lawan

Maunya hidup damai,
Tapi susah cari ketenangan
Banyak sisi negatif yang menawarkan
Banyak sisi kelam yang menghitamkan
Kalau dimengerti, kadang tak mengerti
Kalau dipungkiri, kadang tak bisa dihindari

Ibarat bayangan dan cermin diri
Tak diharapkan tapi selalu menemani
Berbuat baik susah karena banyak yang tak baik
Berbuat sabar susah karena banyak yang mencobai kesabaran

Mementahkan pengharapan
Dan memuntahkan caci maki
Memporakporandakan keteguhan
Membakar emosi

Dan akhirnya meledakkan sejuta kejahatan
Dalam selimut kemunafikan
Dan berlapis kenistaan

Hidup benar diantara yang tak benar
Hidup baik diantara yang tak baik
Hidup damai diantara hingar bingar kekisruhan

Kemana harus kubawa semua keadaan
Kalau hati galau
Jiwa resah
Dan pengharapan putus bagaikan layang layang

Aku mencari jarum ditumpukan jerami
Aku mencari kebenaran diantara keburukan
Aku mencari ketulusan diantara kepalsuan dan kelicikan
Aku mencari kebaikan diantara semua dosa dan kedurjanaan

Aku mencari yang tak pernah kutemui
Karena satu datang dan seribu pergi
Yang satu bertobat dan yang seribu kumat

Bisakah menjadi domba diantara kerumunan serigala buas
Bisakah menjadi tulus seperti merpati diantara lilitan ular beludak

Aku sangsi
Dan aku merasa tak pasti

Jalan dalam likuan setapak semak berduri
Berlari dalam ribuan bara yang menghanguskan kaki
Meratap dalam kertakan siksa langlangbuana

Bayangkan
Jika polisi sudah berkorupsi
Jika hakim sudah manipulasi
Jika jaksa sudah tawar menawar harga pasti
Jika wakil rakyat sudah terbuai dalam singgasana resmi
Tanpa perbuatan hanya teori
Jika membunuh tak lagi ngeri
Jika mencuri tak lagi sembunyi

Lebih baik hidup sendiri
Dalam dunia tak berpenghuni
Apa daya, semua tak akan terjadi
Karena hidup kita bukan sendiri
Tak bisa berlari
Dari lingkaran setan duniawi
Yang bukan lagi menyesatkan hati
Menyunat harga diri
Dan memaklumkan dosa sebagai sebuah senjata sakti

Kembali aku berpikir dalam lekung merenda hari
Jika baik, bukankah karena dulu jahat
Jika benar, bukankah karena dulu salah
Jika berani, bukankah karena dulu takut
Jika tak tau malu, bukankah karena dulu malu malu
Jika terkenal bukankah dulu hanya orang yang tak terpandang
Dan mungkin nyaris tak terlihat
Jika tobat bukankah dulu kala selalu kumat

Kalau tak sekarang, kapan lagi?
Menunggu ajal menjemput, apakah berarti?
Semua tentu sudah tak ada makna,
Karena yang terbuka itu akan tertutup
Dan yang membara itu seketika akan padam

Aku, mau memulai
Walau tanpa kawan, banyak lawan
Tapi aku merasa pasti
Untuk menjadi sebuah sejarah penuh arti
Ketika hayat ini masih dikandung badan

Aku, akan mulai saat ini.
Sampai tanda titik dari tulisan ini.


By smile





Saturday, November 13, 2010

PUISI KE-DUA : AKU BUKAN MEREKA

Mereka bilang aku bodoh
Tapi aku dicerdaskan Nya

Mereka bilang aku sakit
Tapi aku disembuhkanNya

Mereka bilang aku lemah
Tapi aku kuat bersamaNya

Mereka bilang aku jatuh
Tapi aku diangkatNya

Mereka bilang aku hancur
Tapi aku dibentukNya

Mereka bilang aku sedih
Tapi aku dihiburNya

Mereka bilang aku salah
Tapi aku dibenarkanNya

Mereka bilang aku berdosa
Tapi aku ditebusNya

Mereka bilang aku menangis
Dan air mataku jatuh
Tapi aku dibuatnya tersenyum,
Dan disekanya airmataku

Mereka bilang aku bukan siapa siapa
Aku NOTHING
Tapi Aku berharga dihadapanNya

Mereka bilang aku begini
Mereka bilang aku begitu
Tapi Dia bilang bukan begini
Dan bukan begitu

Mereka hanya menyindir dan memandang sinis
Menonton saja dan hanya bercaci
Serta kadang memaki

Tapi Dia tidak….
Dia selalu menjadi penolong yang setia
Dia selalu membelai dan memandangku dengan KasihNya

Walau dunia menghimpitku
Tapi Dia selalu memberikan kelegaan padaku

Jadi, perduli apa aku dengan mereka
Dan perduli apa mereka dengan aku?

Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka perbuat
Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka bilang tentang aku

Biarkan aku hidup dalam duniaku
Dan mereka hidup dalam dunia mereka

Karena aku bukan mereka dan mereka bukan aku
Karena aku adalah aku
Dan mereka tetap mereka,

Aku punya Allah Sang Maha Pencipta
Yang tulus dan tak bercacat cela

Jadi. Tinggalkanlah aku, dan hiduplah dalam dunia mereka,
dan bukan duniaku.....
Karena aku hanya perlu DIA yang mengasihiku



by







February 10th - 2o1o
Puisi aku bukan mereka
PUISI PERTAMA : MEREKA

Mereka ada karena ketidakadaan
Kotor, kumuh dan bernoda
Tinggal dalam rumah tak beratap
Dan tidur dalam tanah tak beralas

Mereka ada karena ketidakseimbangan
Tumbuh,tanpa kasih
Dan perilaku tanpa tuntunan

Mereka kuat seperti baja
Dan kokoh seperti pilar dalam istana
Tak ada air mata abu kelabu
Dan tak ada senyum hanya tatapan lugu
Yang terpikir hanya lapar juga dahaga

Mereka hanya setitik dari berjuta nyawa
Yang hidup dalam ketidakadilan dunia
Tapi mereka tetap putra dan putri bangsa
Tunas muda yang berharga

Mereka tak bisa menjerit
Apalagi menangis terisak pilu
Hanya bisa menerima ikhlas
Dengan helaan nafas tak sesal

Sekarang bukan lagi mereka
Tapi kita, saya dan anda

Bisakah kita berbagi setitik cerah
Untuk hamparan kosong agar bermakna
Bagi kita dan hanya untuk mereka
Agar asa bisa menyela
Dan Harap bisa terasa oleh mereka
Agar kita bernafas lega
Karena kita tidak hidup berbangga
Diantara kaisan sampah …
Dan berharganya mutiara

Karena pada akhirnya ..
Tak ada lagi saya , anda dan mereka
Dalam perbedaan status dan kasta
Karena semua kecil dan lemah dihadapanNya
Bagaikan pasir dipantai dan debu diudara

Jika akhirnya debu kembali menjadi debu
Semuanya hanyalah ke sia-sia an belaka
Jika kita mengangkat pandang dan berbusung dada
Untuk menunjukkan siapa diri kita
Semuanya akan sia - sia tak bermakna

Untuk itu, jadilah terang dan jadilah garam
Untuk Pencipta, manusia dan dunia

Karena kita manusia yang mulia
Dan berharga bak permata


by







February 1Oth - 2O1O

Puisi untuk: "Mereka"

Pigura berbingkai renda
Kilau mengkilat rapih tervernis
Wangi semerbak bau kayu pinus
Rupawan, lagi mengesankan


Tapi,….Kosong….!!!
Tak bergambar dan tak berisi…
Kosong…….
Sebuah pigura tanpa isi….
Hilangkah maknanya?
Atau Hilangkah rupa...seribu muka?


Jika saja baris demi baris kutulis…panjang....
dan lembar demi lembar kukisah…
mungkin tak akan menyangka , jika :
Pigura itu hanya sebuah pigura kosong tanpa isi.
Sekali lagi kutanya, jika kosong dan tak berisi, apakah jadi tak bermakna?
Atau tanpa arti dan kemudian mati?


Setiap hati dan setiap jiwa
Setiap sudut dan setiap tatap
Akan ‘merampas’ arti tersendiri
Dari sebuah figura, kosong, tak berisi.


Seorang sahabat berkata :
Alangkah indahnya pigura ini…
Diambilnyalah kursi dan dihadapinya pigura itu berlama lama
Dipandangnya dengan suatu tatapan yang tak hanya setatap
Menembus sampai ke sudut terdalam dalam sebuah dimensi


Dan setelah dia amati dengan puas, beranjaklah dia dan berkata :
"Suatu hal yang sangat luar biasa, bermakna sedalam samudera ....”

Walau tanpa isi sama sekali didalamnya

Narasi................

Melihat apa yang diceritakan sahabat tersebut, membuat suatu inspirasi yang luarbiasa akan arti sebuah pigura yang ‘kosong’... yang tak bergambar dan tak berobyek apapun....hanya kosong dan kosong.....


Kucoba melakukan apa yang sahabat lakukan.
Duduk , memandang dan menatapnya tajam.....
mendalam.... sampai ke dimensi dimana orang lain tak dapat masuk kedalamnya.


Sebuah pigura kosong seperti sebuah perjalanan mesin waktu,
Tanpa tombol start, hanya memikirkan dan masuk, begitu saja terjadi seketika.
Jika kita membayangkan begitu indahnya hidup kita dalam pigura itu...
Tentu diakhir tatapan dan pandangan kita, akan terlintas senyuman kepuasan.
Bila tidak, tentu saja akan ada kesedihan, kemarahan, dan 1001 rasa yang bisa ditawarkan, Bayangkan!!!
‘Hanya oleh sebuah pigura, kosong’

Terasa kosong tapi berisi
Terasa berisi ternyata kosong
Dimensi segala ilusi

Untuk sebuah pigura kosong, yang ternyata sangat bermakna…
Yang didalamnya bercampur aduk segala rasa, asa dan cerita.
Sebuah mesin pemutar tanpa tombol start, yang bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Bisa hilang dan bisa muncul, kapan saja.
Tak terbentur apapun dan tak bersandar apapun.
Jika ingin utara tak akan muncul selatan.
Pigura kosong namun tak kosong….

Untuk seorang sahabat di SS, Joli.
Memandang suatu sudut pandang...menurut sudut pandang kita memandangnya...
Akan arti dari sebuah kekosongan yang tak kosong
Akan sebuah keabstrakkan yang tidak abstrak


by:






Januari 4th-2010
Dua sisi
Dua pribadi
Raja melahirkan anak Raja
Hamba melahirkan hamba

Kemuliaan, Hormat, Kekuasaan…
Kehinaan, Rendah, dan Kehambaan

Besar dan Luar Biasa
Kecil dan Bukanlah apa apa

Hanya saja Besar tanpa diikuti…
Kecil banyak diminati

Siapakah yang bodoh?
Siapakah yang buta?

Apakah orang buta bisa melihat keindahan dunia?
Orang buta menuntun orang buta

Apakah orang bodoh bisa menguasai dunia?
Naif.....

Pagi buta memohon asa
Pagi buta tertidur lelap tak berdosa
Manja!!!

Melangkah demi selangkah
Setapak demi sejalan
Tapi selalu tertidur lelap
Dalam kemalasan dan kemunafikan

Diluar tampil menawan
Didalam hancur berantakan
Murnikah? Jelas tidak!!!
Atau Kotorkah? Sebuah kepastian

Kembali di ingatkan
Anak Raja selamanya Mulia
Sedangkan sang hamba akankah selamanya Hina?

Dunia boleh menilai
Dan didalamnya banyak kebingungan
Tenang tapi tidak diam
Ricuh tapi begitu bersih
Haruskah kilatan menyambar semesta?
Haruskah Badai menghancurkan jagad raya?

Memporak dan meratakan
Menghilangkan dan membersihkan
Sehingga debu lari berabu
Dan noda bersih berkilau permata

Waktu…
Bukan sebentar, sekejap mata
Lama, ataupun beruban tua
Bukan detik menunggu menit
Dan jam menunggu hari
Tapi……………….
HATI !!!

Sekali lagi,…HATI…
Itu yang diperlu…dan dielu
Bersih dan putih,…murni
Tidak hitam, kelam dan kelabu abu

Satu sisi menjamin
Satu sisi memohon
KESELAMATAN dan KEHIDUPAN ABADI

Tapi kenapa?
Anak Raja tak bertingkah seperti mutiara
Dan budak Hina teguh berhati taqwa

Biarlah…
Biarlah Guruh mengguntur langit
Biarlah laut merombak menara
Dan pijak terbelah dua
Jika tak ada sekali lagi : HATI

HATI yang DIA minta…….

Bangkit dan bangunlah
Sadar dan ingatlah
Sudahi yang perlu disudahi
Tinggalkan yang perlu ditinggalkan
Buka lembar baru hidup mulia
Jangan berpaling jadi batu
Tapi menatap pelangi kan segarkan jiwa

Kini saatnya bertahta
Berlakulah sebagai putra mahkota
Dengan segala hormat dan puji……

Atau
Dimasukkan kelembah nista penuh kertak gigi?
Atau neraka dalam perut bumi?
Tentukanlah itu terjadi
Kini saatnya tanpa menunggu lagi.....


By 







Puisi seorang hamba....
Yang ingin hidup bermahkota
Bersanding bersama Raja
Menyongsong akhir semesta

November 30th -2009
A lonely night
Tanpa Makna
Puisi Curahan jiwa

Memilih yang kosong
Meninggalkan yang berisi
Lepas…..Bebas……
Dalam satu tumpukan
Rapuh dan terurai – berai
Kosong dan sunyi – sepi

Tertatih dalam gelap
Terantuk dalam terang
Wujud tanpa bayang
Raga tanpa jiwa
Kembali, kosong dan hampa - nila

Landai menurun – terjal
Beriak, buih meluap –ruah
Sekal, tumpah, dan jatuh – karam
Pergi, datang dan menghilang – sirna

Luka berbalut, pedih – perih
Iris dan sayat, menusuk – tikam
Ternganga, berbuih luka- menjerit

Mengertikah jagad belukar rimba
Sadarkah guntur berkelebat petir – menyambar
Tak ada arti
Tak ada makna
Terurai, kulai dan bergulir – lemah
Mengalir, meniti berpusar waktu

Batas tapal duri bertaji
Mengertikah ? sunyi – gelap mencekam

Liar tak terkendali – binal
Budi tak juga berpekerti
Patuh, hanya sebuah mimpi
Tak ada lagi rasa, dan juga asa

Rata datar, tak beralun nada
Sirna dan berpulang jiwa
Gugur berderai – terurai, lunglai
Dalam rintihan pasir berbisik
Dan angin berkeluh – lirih
Sepi….diam….dan kemudian hilang

Sebuah puisi tanpa makna
Hanya hasrat dan goresan pena
Lepas, dan kembali bebas
Tanpa beban, dan tanpa batas
Merdeka dalam sebuah dimensi
Tak berakhir, tak berimbas
Mengalir…mengalir dan mengalir saja
Hingga titik akhir dunia

by







Desember 2009

Friday, November 5, 2010

Mereka setia menunggu
Panas itu menghantam tubuh mereka,
Karena apa?
Karena harta benda yang dijaga
Yang Cuma itu saja miliknya

Mereka tak bergeming
Walau yang kokoh dan menjulang tinggi tlah marah
Memuntah melontar semua isinya,
Lagi, dan makin pekat saja
Angin membawanya kesana dan kemari
Abu demi abu merasuki pernafasan…
Membuat semuanya menjadi sesak dan makin berat
Tuk dirasakan…













Namun.................................
Ketika diam kau begitu indah
Dan ketika marah kau begitu ganas, membara
Sudahi amarahmu
Sudahi  pedih perih ini
Ratap mereka apakah belum cukup mengusik rasamu?
Atau tangis dan kematian mereka belum meredakan panasmu
Nyawa demi nyawa yang terus melayang belum cukupkah menyentuh ibamu….

Kau nampak mati
Tapi kau lebih hidup dari pada yang hidup
Mengambil kehidupan dan menciptakan kematian
Apakah itu balasmu?
Atau itu ganjaran kami?

Kulihat mereka yang bertahan untuk hidup
Disaat yang lain ingin mati
Sungguh ironis

Kulihat mereka yang mengharap bisa hidup,
Disaat yang lain, mengharap untuk bisa mati.

Merapi….
Sudahi marahmu
Sudahi lahar panasmu
Sudahi debu abumu
Sudahi energi erupsimu
Yang membasahi bumi pertiwi
Kami, hanya ingin semuanya kembali asri
Kami hanya ingin semuanya kembali berseri……..
Jerit kami,…………………….